5 Istilah Bahasa Jepang yang Relevan Dengan Semua Orang


Ketika menerjemahkan nuansa yang tepat dari sebuah kata atau frasa dari satu bahasa ke bahasa lain, terkadang kata-kata tersebut tidak memiliki kosakata yang pas dalam bahasa kita. Meskipun setiap kata memiliki nuansa khusus, mungkin kamu akan terkejut melihat betapa relevannya kata atau istilah tersebut dengan kehidupan kita sehari-hari di Indonesia.

Kuchisabishi

Makan bahkan saat tidak lapar adalah kebiasaan yang diakui banyak orang. Beberapa melakukannya ketika bosan, yang lain menyebutnya karena mereka suka makan. Namun, di Jepang, kamu kemungkinan besar mengalami yang disebut kuchisabishi, atau 'mulut kesepian' secara harafiah. Perokok yang mencoba menghentikan kebiasaan merokok juga cenderung merasa kuchisabishi - dan mereka mungkin beralih ke permen karet seperti yang dilakukan kebanyakan orang saat mengurangi keinginan mereka untuk merokok.

Shouganai

'Shouganai', atau 'yah mau bagaimana lagi’, paling sering digunakan saat terjadi sesuatu yang di luar kendali dan orang memutuskan untuk menerimanya sebaik mungkin. 'Shouganai' adalah saat seseorang yang disukai sepertinya tidak membalas perasaan, atau saat hujan turun pada hari kamu merencanakan piknik. Ini juga dapat digunakan sebagai penyemangat untuk mengingatkan seseorang bahwa mereka tidak boleh memikirkan hal-hal yang tidak dapat mereka ubah.

Bimyou

Bimyou, atau yang bisa diterjemahkan secara longgar sebagai 'suam-suam kuku'. Kata tersebut dapat digunakan untuk mendeskripsikan apa pun yang biasa-biasa saja, atau 'tidak cukup'. Kamu dapat menggunakan 'bimyou' untuk mendeskripsikan buku atau film yang gagal membuat kamu terkesan, tetapi juga dapat digunakan untuk konsep yang lebih abstrak seperti jendela waktu yang canggung, ketika punya waktu luang beberapa jam di bandara tetapi tidak cukup untuk pergi dan kembali, atau ramalan cuaca yang meragukan.

Mendokusai

Beberapa orang menggambarkan memasak makanan mereka sendiri sebagai 'mendokusai'. Untuk anak-anak sekolah, pekerjaan rumah adalah 'mendokusai'. Kata tersebut umumnya merujuk pada segala sesuatu yang membosankan atau menyebalkan yang harus dilakukan atau tidak dapat hindari. Namun, 'mendokusai' juga bisa digunakan untuk menggambarkan orang atau situasi tertentu. Ketika terlibat dalam drama yang tidak perlu atau harus berurusan dengan orang yang sangat sulit mungkin mereka akan memutar mata dan berseru bahwa itu semua terlalu 'mendokusai'.

Mottainai

Mengalami kesulitan berpisah dengan pakaian yang tidak pernah kamu kenakan atau membuang bumbu kadaluwarsa?  'Mottainai' adalah istilah sehari-hari yang digunakan saat menghadapi rasa penyesalan yang datang dengan pemborosan. 'Mottainai' dapat diartikan sebagai sia-sia, sayang sekali, atau tidak perlu.  Istilah ini tidak hanya mengacu pada barang yang yang dibuang di tempat sampah, tetapi juga barang bagus yang tidak digunakan atau disimpan di gudang. Istilah ini juga dapat digunakan untuk menggambarkan pemborosan bakat atau peluang yang hilang.

Sumber : JapaneseStation