Atlet yang Ikut Olimpiade Tokyo Akan Dites Air Liur Setiap Hari


Para atlet yang berpartisipasi dalam Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo akan dites untuk mendeteksi virus corona baru setiap hari, terutama melalui tes berbasis air liur guna mendeteksi potensi infeksi pada tahap awal, kata pejabat yang mengetahui perencanaan tersebut pada hari Selasa.

Pemerintah Jepang dan penyelenggara sebelumnya berencana untuk melakukan tes setidaknya sekali setiap empat hari, seperti yang dijelaskan dalam pedoman COVID-19 edisi pertama yang disebut "buku pedoman" yang dirilis pada bulan Februari untuk para atlet. Tetapi, penyelenggara telah memutuskan untuk meningkatkan frekuensi tes untuk memperkuat langkah-langkah keamanan karena varian virus yang lebih menular terus menyebar.

Dengan Komite Olimpiade Internasional, badan penyelenggara untuk pertandingan yang telah dijadwalkan ulang musim panas ini sedang mengerjakan rincian kebijakan baru, yang diharapkan akan dimasukkan dalam edisi kedua buku pedoman yang akan dirilis pada akhir bulan ini, menurut pejabat.

Dengan kurang dari 100 hari tersisa hingga upacara pembukaan Olimpiade, Tokyo telah dilanda oleh apa yang oleh para ahli medis sebut sebagai gelombang keempat infeksi COVID-19. Kendati demikian, Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga dan pejabat Olimpiade bersikeras bahwa Olimpiade akan dimulai sesuai rencana pada 23 Juli mendatang.

Menurut para pejabat. pemeriksaan berkala terhadap atlet internasional umumnya akan dilakukan di pusat pengumpulan sampel yang terletak di dalam desa atlet di distrik tepi laut Harumi, Tokyo. Seperti tes doping, tes air liur akan dilakukan di bawah pengawasan untuk mencegah tindakan curang seperti penggantian sampel.

Penyelenggara sendiri masih mempertimbangkan apakah akan menggunakan uji reaksi antigen atau polimerase untuk menganalisis sampel.

Jadwal akan ditetapkan untuk setiap kompetisi berdasarkan kebijakan bahwa tes akan dilakukan setiap hari jika memungkinkan. Atlet dapat dibebaskan dari tes sehari sebelum kompetisi, atau pada hari itu sendiri.

Namun, atlet dengan gejala seperti demam atau batuk kemungkinan akan diminta untuk menjalani tes PCR spesimen swab nasofaring di klinik di desa atlet. Mereka yang dites positif  pun akan segera diisolasi.

Pemerintah dan panitia penyelenggara juga bekerja sama untuk merumuskan langkah-langkah pengendalian infeksi yang ketat, termasuk pengujian rutin. Kebijakan khusus, seperti pembatasan transportasi dan aktivitas, akan dibahas dalam rapat penanggulangan virus corona yang pertama kali digelar sejak Desember, sebelum playbook dirilis.

Sumber : Japanesestation