Pandemi, Layanan Kencan Online Jepang Laku Keras

Krisis COVID-19 memang mempersempit gerak dan kesempatan kita untuk bertemu secara tatap muka dengan orang lain. Nah, bagaimana dengan dunia kencan Jepang? Mari kita cari tahu jawabannya!

"Selamat malam," "Kamu berasal dari mana ya?" itulah yang dikatakan seorang pria berusia 40 tahunan sambil duduk dan tersenyum di depan smartphone miliknya, dengan sekaleng bir di tangannya.  Ia melakukan semua itu di dalam kamar apartemennya di Prefektur Kanagawa.

Situasi di atas mungkin terlihat seperti nomikai online, namun rupanya berbeda. Ya, itu bukanlah nomikai biasa, melainkan sebuah even kencan online via aplikasi video conference yang digelar oleh perusahaan layanan kencan LMO Corp. yang berbasis di Fukuoka. Saat even tersebut berlangsung, ada lebih dari 20 orang yang menghadiri pesta tersebut.

Seorang pria tengah melakukan kencan online dari rumahnya di Prefektur Kanagawa pada 12 Maret 2021. Ia mengatakan bahwa waktu sendirinya yang meningkat akibat pandemi membuatnya kesepian dan ingin bersama seseorang.(Mainichi/Kimi Takeuchi)

Melansir Mainichi, dalam even ini, seorang pembawa acara akan melakukan perkenalan diri dan aktivitas lainnya. Nah, jika percakapan antara para peserta ini berlangsung seru, terkadang pesta ini bisa selesai hingga pukul 4 pagi keesokan harinya. Wow.

Acara pesta single online semacam ini memang tengah in akibat virus corona. LMO pun menawarkan sebuah “set” pesta yang digelar 3 hari dalam seminggu, pada hari Rabu, Jumat, dan Sabtu.

“Biasanya satu pesta berjalan sekitar 2 jam, tetap itu tak cukup untuk mengenal seseorang,” kata CEO perusahaan Kota Takada pada Mainichi Shimbun.

Jika seseorang menemukan orang yang membuatnya tertarik, mereka bisa meminta perusahaan untuk membuat kencan online one-on-one. Jika keduanya setuju, mereka juga bisa bertukar kontak dan menyusun rencana kencan di dunia nyata.

Kembali ke pria di apartemen, ia sebenarnya telah berpikir untuk menikah di umur 30 tahunan dan berpartisipasi dalam kencan grup (goukon) selema beberapa kali. Kendati demikian, ia nyatanya tidak terlalu antusias dalam mencari istri. Ia pun membeli apartemen yang kini ditinggalinya pada umur 40 dan berpikir untuk tetap single seumur hidupnya. Apartemen tersebut pun terlalu kecil bagi dua orang.

Seorang pria tengah melakukan kencan online dari rumahnya di Prefektur Kanagawa pada 12 Maret 2021. Ia mengatakan bahwa waktu sendirinya yang meningkat akibat pandemi membuatnya kesepian dan ingin bersama seseorang. (Mainichi/Kimi Takeuchi)

Namun, ia mulai mencari calon istri dengan serius mulai musim semi 2020 karena pandemi virus corona.

"Waktu sendirianku meningkat pesat, dan saat aku menonton TV di rumah, ada saat di mana aku mendadak kesepian,” tuturnya.

Akhirnya, ia menemukan LMO online dan mulai berpartisipasi sejak Februari lalu. Namun, ia mengatakan bahwa ada beberapa kesulitan yang ditemuinya.

 "Apa yang harus kau katakan dan bagaimana dengan timing? Kita tak bisa terlalu lama diam. Hal ini sangat menguji skill komunikasi,” ujarnya.

"Sulit untuk meminta pertemuan one-on-one. Kau tak akan tahu jika seseorang yang kau temui untuk pertama kalinya dan nampaknya baik akan hadir di pesta depan atau tidak. Tapi, jika terlalu buru-buru membuat keputusan, mereka bisa menolakmu,” tambahnya.


Hal serupa pun dialami oleh seorang staf fakultas di sebuah universitas di Prefektur Okayama, Kansai. Ia mulai berpikir tentang pernikahan saat memasuki era Reiwa dan satu per satu temannya mulai menikah. Sayangnnya, ia belum menemukan pasangan yang cocok hingga pandemi menyerang.

 "Mendadak, waktuku sendirian bertambah. Aku merasa kesepian,” ujar pria berusia 30 tahunan ini.

Akhirnya, pada ahir 2020, ia memutuskan untuk tidak pulang ke rumah orang tuanya di Kanto untuk merayakan tahun baru dan malah mendaftar untuk mengikuti pesta kencan online dan pada Februari lalu, ia bertemu dengan seorang wanita dari pesta tersebut secara tatap muka.

Ia tinggal di Kyushu. Untuk menemuinya, pria itu meninggalkan rumahnya pada pagi hari dan menggunakan shinkansen dan transportasi lainnya.

“Tidak ada kata nervous sama sekali meski ini pertemuan pertama kami,” ujarnya sambil berkata bahwa kesan yang didapatkannya tak jauh berbeda dengan kesan saat menemui wanita itu di internet.

Kendati cocok dan menghabisakan waktu seharian penuh berjalan berdua dengannya, wanita itu mengatakan bahwa ia belum yakin untuk berpacaran. Dan hingga kini, masih belum terdengar kabar dari wanita itu meski ia tetap berpikir positif.

 "Tipe idealmu tak perlu dekat. Kesempatan untuk nertemu orang baru di area pinggir kota lebih rendah dibanding di Tokyo dan kota besar lainnya. Dapat mencari pasangan ke Jepang bagian lain secara online artinya hambatan pertama untuk bertemu, jarak, telah hilang,” ujarnya.